Merancang solusi yang bermanfaat dengan berpikir kreatif, kritis, dan berpusat pada manusia
Setiap hari kita menghadapi berbagai masalah. Di sekolah ada siswa yang kesulitan memahami materi, antrean panjang di kantin, alat praktik yang sulit ditemukan, informasi yang tidak tersampaikan dengan baik, atau tugas yang masih dilakukan berulang-ulang.
Di dunia kerja, masalah juga muncul dalam berbagai bentuk. Teknisi dapat menghadapi kendala dalam proses pemeriksaan kendaraan. Desainer harus memahami kebutuhan klien. Petugas layanan harus memahami kebutuhan pelanggan.
Menariknya, tidak semua masalah harus langsung diselesaikan dengan teknologi. Langkah pertama justru adalah memahami masalah dan manusia yang mengalami masalah tersebut.
Di sinilah kita mengenal sebuah pendekatan yang disebut Design Thinking.
Apa Itu Design Thinking?
Design Thinking adalah pendekatan untuk memahami masalah, menemukan kebutuhan, menghasilkan berbagai ide, membuat solusi, mengujinya, kemudian memperbaikinya berdasarkan hasil pengujian.
Pendekatan ini tidak hanya bertanya:
Tetapi dimulai dengan pertanyaan yang lebih penting:
Dalam pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial, pendekatan ini penting karena AI seharusnya digunakan untuk membantu manusia dan menyelesaikan masalah yang nyata, bukan sekadar digunakan karena teknologinya sedang populer.
Mulai dari Manusia, Bukan dari Teknologi
Salah satu prinsip penting dalam pengembangan AI adalah pendekatan human-centered. Artinya, teknologi dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan, nilai, pengalaman, keamanan, dan kesejahteraan manusia.
Sebuah solusi yang terlihat canggih belum tentu menjadi solusi yang baik jika sulit digunakan atau tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya.
Tahapan Design Thinking
Untuk memudahkan pembelajaran, proses design thinking dapat dipahami sebagai rangkaian kegiatan yang dimulai dari memahami masalah sampai menguji dan memperbaiki solusi.
Proses tersebut tidak selalu berjalan lurus. Setelah sebuah solusi diuji, kita mungkin menemukan masalah baru. Karena itu, solusi dapat kembali diperbaiki dan diuji kembali.
1. Memahami Pengguna dan Masalah
Langkah pertama adalah memahami siapa yang mengalami masalah dan bagaimana masalah tersebut terjadi.
Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan:
- Siapa yang mengalami masalah?
- Kapan masalah tersebut terjadi?
- Apa yang membuat masalah tersebut muncul?
- Apa kesulitan yang dirasakan pengguna?
- Apa yang sebenarnya dibutuhkan pengguna?
Contoh
Di sebuah bengkel sekolah, siswa sering membutuhkan alat praktik tertentu. Namun, alat tersebut sering sulit ditemukan karena tidak memiliki sistem penyimpanan yang jelas.
Jangan langsung menyimpulkan:
Cari tahu terlebih dahulu:
- Mengapa alat sulit ditemukan?
- Siapa yang menggunakan alat?
- Bagaimana alat dicatat saat ini?
- Apakah masalahnya benar-benar membutuhkan aplikasi?
2. Merumuskan Masalah
Setelah memperoleh informasi, kita perlu merumuskan masalah dengan lebih jelas.
Gunakan pola:
Contoh:
Perbedaan ini penting. Kalimat kedua menjelaskan masalah, bukan langsung menentukan teknologi yang harus digunakan.
3. Mencari Berbagai Ide Solusi
Setelah masalah dipahami, saatnya mencari ide. Jangan langsung memilih ide pertama yang muncul. Buat beberapa alternatif terlebih dahulu.
Contoh ide
- Membuat label pada rak alat.
- Membuat kartu inventaris.
- Membuat tabel sederhana.
- Membuat QR code untuk identifikasi alat.
- Membuat sistem pencatatan digital.
- Menggunakan AI untuk membantu mengelompokkan data inventaris.
Dari beberapa alternatif tersebut, kita dapat membandingkan manfaat, biaya, kemudahan, risiko, dan kesiapan pengguna.
Bagaimana AI Membantu Mencari Ide?
AI generatif dapat digunakan sebagai teman berdiskusi untuk menghasilkan alternatif ide. Namun, AI sebaiknya tidak menjadi satu-satunya sumber keputusan.
Contoh Prompt
Jawaban AI kemudian perlu diperiksa. Beberapa ide mungkin tidak sesuai dengan kondisi sekolah. Di sinilah kemampuan berpikir kritis tetap diperlukan.
4. Membuat Rancangan Awal
Setelah memilih ide, buat rancangan sederhana. Rancangan ini tidak harus langsung menjadi aplikasi yang sempurna.
Kita dapat membuat:
- Sketsa.
- Diagram alur.
- Storyboard.
- Prototype kertas.
- Contoh tampilan aplikasi.
- Simulasi pelayanan.
Contoh Prototype Kertas
📦 SISTEM INVENTARIS ALAT
Nama Alat: __________________
Jumlah: _____________________
Lokasi: _____________________
Status: ☐ Tersedia ☐ Dipinjam
Prototype seperti ini dapat dibuat tanpa komputer. Tujuannya adalah memperlihatkan bagaimana sebuah solusi akan bekerja sebelum dibuat dalam bentuk yang lebih lengkap.
5. Menguji dan Memperbaiki Solusi
Sebuah solusi tidak seharusnya langsung dianggap berhasil hanya karena sudah dibuat. Solusi perlu diuji dengan pengguna.
Mintalah orang lain mencoba prototype dan tanyakan:
- Apakah mudah digunakan?
- Bagian mana yang membingungkan?
- Apa yang kurang?
- Apa yang sebaiknya diubah?
- Apakah solusi tersebut benar-benar membantu?
Masukan dari pengguna menjadi bahan untuk melakukan perbaikan.
Design Thinking dan AI System Design
Dalam pengembangan sistem AI, prosesnya dapat menjadi lebih kompleks. Panduan Koding dan Kecerdasan Artifisial menjelaskan bahwa pengembangan model KA dapat melalui tahapan seperti identifikasi masalah, pengumpulan data, praproses data, pengembangan model, pelatihan, evaluasi, perbaikan dan optimalisasi, hingga implementasi.
Artinya, membuat sistem AI bukan hanya tentang memilih aplikasi AI. Ada proses yang perlu dipikirkan sejak masalah, data, model, evaluasi, sampai penerapan.
Contoh Design Thinking Sesuai Bidang Keahlian
🔧 Teknik Sepeda Motor
Masalah: Pelanggan sering lupa jadwal perawatan berkala kendaraan.
Ide solusi: Sistem pengingat perawatan kendaraan.
Peran AI: Membantu membuat jadwal, mengelompokkan jenis perawatan, atau menyusun pesan pengingat.
Peran manusia: Menentukan standar perawatan dan memastikan informasi teknis benar.
🎨 Desain Komunikasi Visual
Masalah: Sebuah kegiatan sekolah membutuhkan poster yang menarik tetapi waktu pembuatan terbatas.
Ide solusi: Menggunakan AI untuk membantu eksplorasi konsep visual.
Peran AI: Menghasilkan alternatif ide, headline, konsep visual, dan referensi gaya.
Peran desainer: Menentukan konsep akhir, komposisi, tipografi, warna, dan kesesuaian pesan.
🏦 Perbankan Syariah
Masalah: Nasabah membutuhkan informasi layanan yang mudah dipahami.
Ide solusi: Membuat pusat informasi atau FAQ layanan.
Peran AI: Membantu menyusun draft pertanyaan dan jawaban berdasarkan informasi yang telah disediakan.
Peran manusia: Memeriksa ketepatan informasi, menjaga kerahasiaan data, dan memastikan informasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Jangan Lupa Etika dalam Merancang AI
Solusi teknologi yang baik bukan hanya solusi yang bekerja. Solusi juga perlu memperhatikan manusia yang menggunakannya.
Dalam pendekatan human-centered, beberapa hal penting yang perlu diperhatikan adalah:
- Manfaat: Apakah solusi benar-benar membantu manusia?
- Etika: Apakah solusi mempertimbangkan nilai dan dampaknya?
- Inklusivitas: Apakah solusi dapat digunakan oleh berbagai pengguna?
- Transparansi: Apakah pengguna memahami bagaimana sistem bekerja?
- Akuntabilitas: Siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kesalahan?
- Keamanan: Apakah data pengguna terlindungi?
Pendekatan human-centered dalam panduan KKA menekankan kesejahteraan manusia, etika dan nilai sosial, partisipasi dan inklusivitas, serta kepercayaan dan akuntabilitas dalam pengembangan sistem KA.
Aktivitas: Tantangan Mencari Solusi
Sekarang saatnya mencoba. Pilih satu masalah sederhana yang ada di lingkungan sekolah atau bidang keahlian.
Langkah 1 — Temukan Masalah
Tuliskan satu masalah yang benar-benar terjadi.
Langkah 2 — Kenali Pengguna
Langkah 3 — Buat Tiga Ide
- ................................................................................
- ................................................................................
- ................................................................................
Langkah 4 — Pilih Ide
Pilih berdasarkan:
- Manfaat.
- Kemudahan.
- Biaya.
- Keamanan.
- Kesesuaian dengan kebutuhan pengguna.
Langkah 5 — Buat Prototype
Gambarkan rancangan solusi pada kertas. Tidak perlu sempurna. Yang penting adalah orang lain dapat memahami cara kerja solusi tersebut.
Langkah 6 — Minta Masukan
Tunjukkan rancangan kepada teman dan tanyakan:
- Bagian mana yang sudah baik?
- Bagian mana yang membingungkan?
- Apa yang perlu diperbaiki?
Bisa Dilakukan Tanpa Gadget
Belajar design thinking tidak harus selalu menggunakan komputer atau internet. Konsepnya dapat dipelajari melalui diskusi, kertas, kartu masalah, permainan peran, dan pembuatan prototype sederhana.
Pendekatan unplugged juga menjadi salah satu pilihan dalam pembelajaran Koding dan KA sehingga kegiatan tetap dapat dilakukan pada kondisi fasilitas teknologi yang terbatas.
Mengembangkan Profil Lulusan 8 Dimensi
Kegiatan merancang solusi tidak hanya mengembangkan keterampilan teknologi. Prosesnya juga dapat mendukung berbagai dimensi Profil Lulusan.
| Dimensi | Contoh dalam Design Thinking |
|---|---|
| Penalaran Kritis | Menganalisis masalah dan mengevaluasi solusi. |
| Kreativitas | Menghasilkan berbagai alternatif solusi. |
| Kolaborasi | Bekerja bersama dan membagi peran. |
| Kemandirian | Mengembangkan solusi dan mengambil inisiatif. |
| Komunikasi | Menyampaikan masalah, ide, dan hasil rancangan. |
| Kewargaan | Mempertimbangkan dampak solusi terhadap lingkungan dan masyarakat. |
Delapan dimensi Profil Lulusan meliputi Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME, Kewargaan, Penalaran Kritis, Kreativitas, Kolaborasi, Kemandirian, Kesehatan, dan Komunikasi.
5 Tips Membuat Solusi yang Lebih Baik
1. Jangan terburu-buru memilih teknologi
Pastikan masalahnya benar-benar dipahami terlebih dahulu.
2. Dengarkan pengguna
Orang yang mengalami masalah dapat memberikan informasi yang sangat penting.
3. Buat beberapa alternatif
Jangan berhenti pada ide pertama.
4. Uji sebelum menyempurnakan
Masukan pengguna dapat menunjukkan bagian yang perlu diperbaiki.
5. Gunakan AI dengan kendali manusia
AI dapat membantu menghasilkan ide, tetapi manusia tetap memeriksa, memilih, dan bertanggung jawab atas hasil akhirnya.
Kesimpulan
Design Thinking mengajarkan kita bahwa menciptakan solusi bukan hanya tentang membuat sesuatu yang terlihat canggih. Prosesnya dimulai dari memahami manusia dan masalah yang mereka hadapi.
AI dapat menjadi alat bantu yang sangat berguna dalam proses tersebut. AI dapat membantu mencari alternatif ide, mengembangkan konsep, menyusun informasi, dan mengeksplorasi kemungkinan solusi.
Namun, manusia tetap memegang kendali. Kita harus menentukan tujuan, menilai hasil, mempertimbangkan risiko, menjaga data, dan memastikan solusi benar-benar memberikan manfaat.
Masalah → Ide → Prototype → Uji → Perbaiki
Itulah perjalanan sederhana dari masalah menuju solusi.
💡 Refleksi
Sebelum menutup artikel ini, coba jawab pertanyaan berikut:
- Masalah apa di lingkungan sekolah yang menurut Anda perlu diselesaikan?
- Siapa yang paling merasakan masalah tersebut?
- Apa tiga solusi yang mungkin dilakukan?
- Apakah solusi tersebut benar-benar membutuhkan AI?
- Apa risiko yang perlu dipertimbangkan?
- Bagaimana Anda dapat menguji solusi tersebut sebelum digunakan?
Belajar teknologi bukan hanya tentang menggunakan alat, tetapi tentang menciptakan solusi yang bermanfaat bagi manusia.
